Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Iran Setuju Kembali Berunding Soal Nuklir pada Desember

Rabu 01 Des 2010 07:44 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL--Iran, Selasa (30/11) menyetujui perundingan putaran baru di Jenewa 6-7 Desember dengan negara-negara penting mengenai program nuklirnya yang kontroversial, kata juru bicara urusan luar negeri Uni Eropa (EU).

Ketua delegasi Iran, Said Jalili, akan bertemu untuk berunding dengan ketua diplomat EU Catherine Ashton, yang akan memimpin delegasi internasional, kata juru bicara itu. "Kami sekarang menerima tanggapan dari pihak berwenang Iran di mana mereka mengatakan bahwa Dr.Jalili menyetujui usulan Catherine Ashton untuk bertemu di Jenewa," kata juru bicara itu.

"Perundingan-perundingan antara Catherine Ashton dan Dr.Jalili kini akan diselenggarakan Senin dan Selasa pekan depan di Jenewa." Ashton akan memimpin kelompok "3+3" atau "5+1", yakni negara yang berunding dengan Iran terdiri atas lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis dan Inggris) dan Jerman.

Perundingan itu merupakan yang pertama antara Iran dan enam negara itu sejak Oktober 2009. Sanksi-sanksi itu "tidak dapat diragukan telah mendorong Iran untuk kembali ke meja perundingan," kata pejabat itu.

Iran terkena empat babak sanksi karena penolakan untuk menghentikan pengayaan uranium. Pengayaan uranium merupakan roses penting untuk membuat bahan bakar nuklir atau jika diproses dalam kadar tinggi dapat untuk membuat bom.

Ketidak sepakatan mengenai agenda itu menghambat dimulainya kembali perundingan-perundingan tersebut. Enam negara itu menginginkan perundingan itu dipusatkan pada program pengayaan uranum Iran tetapi Teheran menghendaki perluasan pembahasan yang memasukkan masalah-masalah keamanan regional.

Amerika Serikat, Eropa dan Israel khawatir Iran akan menggunakan teknologi nuklir untuk membuat sebuah bom,tetapi Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai untuk memproduksi energi sipil.

Ashton semula mengusulkan Wina sebagai tempat perundingan itu sementara Iran menghendaki Ankara , satu lokasi yang ditolak oleh negara-negara Barat. Seorang pejabat senior Eropa mengatakan keputusan Iran untuk kembali ke meja perundingan membuktikan bahwa sanksi-sanksi terhadap Iran efektif.

sumber : Ant
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA